Profil: Muhammad Ali, Petinju Legendaris (In Memoriam)

Muhammad Ali

Petinju legenda tahun 1960an hingga 1980an, Muhammad Ali, wafat di Amerika Serikat pada 3 Juni 2016 (usia 74 tahun). Agar mengenal lebih dalam tentang atlet yang satu ini, seri Profil kali ini mengulas kisah hidup Muhammad Ali.

Awal hidup Clay dan karir tinju amatir

Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr. pada 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Sang ayah, Cassius Marcellus Clay, Sr., merupakan pelukis billboard dan rambu lalu lintas. Ibunya, Odessa Grady Clay bekerja sebagai pencuci pakaian.

Clay junior pertama kali diperkenalkan pada olahraga tinju ketika berumur 12 tahun. Saat itu ia melapor kepada polisi bernama Joe Martin, bahwa sepeda BMX miliknya dicuri. Joe Martin yang juga seorang pelatih tinju di Louisville, mengajari Clay kecil cara bertinju agar dapat menghajar pencuri sepeda itu. Clay junior mengawali karir tinju amatirnya pada 1954. Dia berhasil meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia.


Karir tinju professional dan “Muhammad Ali”

Pada 29 Oktober 1960, Clay resmi memulai karir tinju professional dengan menang angka atas Tunney Hunsaker setelah 6 ronde. Pada 25 Februari 1964, Clay pertama kalinya merebut gelar juara dunia kelas berat lewat menang TKO (technical knockout) ronde ke-7 atas Sonny Liston di Florida. Segera setelah menang, Clay mengumumkan masuk agama Islam, bergabung dengan grup Nation of Islam, serta mengganti nama menjadi Muhammad Ali.

Ali mengikuti tanding ulang dengan Sonny Liston pada 25 Mei 1965. Pukulan yang begitu cepat tidak terlihat mengenai Liston yang roboh, lalu kalangan tinju menyebut pukulan Ali itu sebagai ‘phantom punch’. Banyak isu yang berkembang, termasuk suap dan ancaman orang-orang NOI kepada Liston dan keluarganya. Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali memang menghantamnya dengan keras.

Selama Maret 1967 sampai Oktober 1970, Ali tidak bermain karena diskors Komisi Tinju akibat menolak program wajib militer Amerika Serikat dalam perang Vietnam.

Kekalahan pertama Ali terjadi pada 8 Maret 1971, saat kalah angka dari Joe Frazier. Ali pun juga harus kehilangan gelarnya. Ia kembali melawan Joe pada 28 Januari 1974, dan berhasil menang angka. Ali kembali merebut gelar juara kelas berat setelah menumbangkan George Foreman di Zaire (kini Republik Demokratik Kongo) pada 29 Oktober 1974, dalam ronde 8. Pada 1 Oktober 1975, Ali untuk ketiga kalinya menghadapi Joe Frazier di Manila, Filipina. Ia menang secara TKO setelah ronde ke-14.

Pada 27 Juli 1979, Ali menyatakan mundur dari tinju. Namun, pada 2 Oktober 1980, Ali kembali ke ring tinju melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang saat itu menjadi juara dunia kelas berat. Ali tidak mampu berkutik, sementara Holmes dengan mudah mendominasi pertandingan. Ali menyerah dan mundur di ronde ke-11, sehingga Holmes menang TKO.

Trevor Berbick menjadi lawan terakhir Ali, dalam pertandingan terakhirnya di Bahama pada 11 Desember 1981. Ia kembali kalah angka usai 10 ronde. Setelah itu Ali benar-benar menyatakan pensiun dari dunia tinju, dengan rekor 56 kemenangan dan 5 kali kalah.


Muhammad Ali di Indonesia

Ali pertama kali berkunjung ke Indonesia di tahun 1973. Dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta pada 20 Oktober 1973, Ali menang angka atas lawannya, Rudie Lubbers setelah bermain 12 ronde. Kesan Ali saat pertama kali ke Indonesia adalah:

“Sebuah negara yang unik, dimana penduduknya sangat bersahabat, dan selalu tersenyum kepada siapapun.”

Ali kemudian beberapa kali mengunjungi Indonesia dan terakhir kali tercatat pada 23 Oktober 1996, dimana ia bertemu pejabat tinggi negeri ini.


Gaya tinju Muhammad Ali

Ali memiliki gaya tinju yang unik dan berbeda dari para petinju lain di eranya. Ia menyebutnya ‘melayang bagai kupu-kupu, menyengat seperti lebah’.

Ali memutari lawan selama pertandingan, menempatkan tangannya di bawah, serta membalas cepat dan tidak terprediksi. Dia mengandalkan kecepatan tangan, refleks, pergerakan konstan, dan kaki cepat seperti sedang menari. Pergerakan kakinya yang kuat menyulitkan lawan untuk membuatnya terpojok. Salah satu trik Ali adalah membuat lawan melancarkan banyak pukulan straight yang malah membuat pertahanannya cukup terbuka.

Sebelum maupun saat bertanding di atas ring, Ali tak jarang mengejek dan memancing semua lawannya. Kata-kata Ali merendahkan lawannya, dan seperti terdesain untuk mempromosikan pertarungan. Kata-kata yang kerap dilontarkan itu adalah untuk memacu psikologi lawan, yang membuat mereka terprovokasi dan kehilangan fokus. Karena itu, Ali dijuluki “Si Mulut Besar”.


Kehidupan keluarga Ali

Muhammad Ali menikah empat kali dan memiliki total 2 putra dan 7 putri. Ia pertama menikah dengan Sonji Roi pada 14 Agustus 1964, tetapi pisah pada 10 Januari 1966 karena Roi menolak berpakaian gaya Muslim. Setahun kemudian, pada 17 Januari 1967, Ali menikahi Belinda Boyd. Belinda mengikuti suaminya dengan berpindah ke agama Islam dan mengganti nama menjadi Khalilah Ali. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai 4 anak.

Di tahun 1975, Ali mulai menjalin hubungan dengan Veronica Porche Anderson. Pada 1977, Ali cerai dengan Khalilah dan dalam tahun yang sama menikahi Veronica. Dari pernikahan ketiga ini, mereka memiliki 2 putri bernama Hanna dan Laila Ali. Sekali lagi, Ali cerai dengan Veronica pada 1986. Di tahun yang sama, pada 19 November 1986, Ali menikah untuk keempat kalinya, dengan Yolanda Williams. Mereka memiliki satu putra adopsi, Asaad Amin.


Sejarah penyakit dan wafatnya Muhammad Ali

Muhammad Ali didiagnosa menderita Parkinson pada 1984. Meski begitu, Ali telah merasakan gejala-gejalanya sebelum bertanding dengan Larry Holmes, seperti tangan gemetar dan bicara yang mulai lamban. Ali terus berjuang dengan Parkinson hingga sisa hidupnya.

Ali beberapa kali dilarikan ke rumah sakit akibat berbagai masalah, termasuk gejala pneumonia dan infeksi ginjal. Pada 2 Juni 2016, ia kembali dibawa ke rumah sakit di Scottsdale, Arizona, AS karena masalah pernapasan. Kondisinya justru semakin memburuk, dan pada esok harinya (3 Juni) Muhammad Ali dinyatakan meninggal dunia.

Wafatnya Muhammad Ali mengejutkan dunia dan membawa duka cita bagi keluarga, sahabat, orang-orang yang pernah bertemu dan mengenalnya. Jenazahnya disemayamkan selama satu minggu di kota asalnya (Louisville), dan dimakamkan pada 10 Juni 2016.

Selamat jalan ‘The Greatest’, Muhammad Ali.

Dikutip dari Wikipedia (id.wikipedia.org dan en.wikipedia.org) dan www.merdeka.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s