Profil Hari Ini: Mohammad Hatta (Bung Hatta)

Mohammad_Hatta

Dr. Drs. H. Mohammad Hatta (lahir bernama Muhammad Athar, populer dipanggil Bung Hatta) adalah negarawan, ekonom, dan wakil presiden pertama Indonesia. Bersama Soekarno, beliau dikenal sebagai Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.


Awal hidup Bung Hatta

Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), anak kedua dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha.

Pergerakan politik dimulainya saat bersekolah di Handels Hogeschool, Belanda (kini Universitas Erasmus Rotterdam) pada 1921. Ia masuk organisasi sosial Indische Vereniging, yang kemudian menjadi organisasi politik dengan pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, serta Douwes Dekker. Di tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Pada 1926 hingga 1931, ia menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia.

Pada 25 September 1927, Hatta ditangkap penguasa Belanda terkait tuduhan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan terhadap Semaun, terlibat pemberontakan PKI di Indonesia pada 1926-1927, dan menghasut supaya menentang Kerajaan Belanda. Ia dihukum 3 tahun penjara. Semua tuduhan itu, ia tolak dalam pidatonya “Indonesia Merdeka” pada sidang 22 Maret 1928. Setelah beberapa bulan, Hatta dibebaskan karena tuduhan tidak bisa dibuktikan.

Pada tahun 1932, Hatta pulang ke Indonesia (waktu itu masih bernama Hindia Belanda). Hatta kembali ditangkap Belanda pada 25 Februari 1934 dan diasingkan ke Digul, dan selanjutnya ke Banda Neira. Selama menjadi tahanan di kedua daerah itu, dia bercocok tanam, mengajar, dan terkadang menulis artikel di beberapa koran seperti Sin Tit Po dan Pemandangan.

Pada Februari 1942, Hatta dan Sutan Syahrir (yang juga ditahan bersama pada 1934) dipindah ke Sukabumi oleh pemerintah Hindia Belanda, yang saat itu terdesak akibat datangnya Jepang ke Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, Hatta dibawa ke Jakarta. Ia ditawarkan kerjasama dan dijanjikan jabatan penting. Hatta menolak, dan memilih menjadi penasihat.

Sepanjang masa penjajahannya di Indonesia, Jepang memanfaatkan tokoh-tokoh seperti Hatta, Soekarno, dan lain-lain, dalam organisasi dan lembaga bentukan Jepang seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI, dan PPKI, untuk menarik hati rakyat Indonesia.


Peristiwa kemerdekaan Indonesia

Mohammad Hatta menjadi salah satu tokoh penting utama dalam mewujudkan kemerdekaan negara Indonesia. Hatta adalah salah satu anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), kemudian PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Saat Jepang makin terdesak oleh Sekutu setelah peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki, golongan pemuda mendesak agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan. Malam hari tanggal 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok. Soekarno, Hatta, Fatmawati (istri Soekarno) bersama Guntur (anak Soekarno) diculik para pemuda ke kota Rengasdengklok (dekat Karawang, Jawa Barat). Di situ, mereka membujuk kembali Soekarno dan Hatta. Setelah kembali ke Jakarta, golongan muda dan golongan tua berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol 1 untuk membahas persiapan kemerdekaan Indonesia.

Setelah naskah proklamasi siap, keesokan harinya (17 Agustus 1945), Soekarno ditemani Hatta secara resmi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.


Wakil presiden pertama Indonesia

Pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia pertama.

Di tahun 1948, Hatta mencetuskan dasar politik luar negeri Indonesia yang “bebas aktif” lewat bukunya berjudul Mendayung di antara Dua Karang.

Hatta menjadi salah satu tokoh penting dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia di dunia internasional. Beliau menjadi ketua perwakilan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan Republik Indonesia Serikat (RIS). Hatta mundur dari jabatan wakil presiden pada 1 Desember 1956. Ada beberapa alasan terkait hal itu, termasuk (1) karena Indonesia menjalankan sistem demokrasi parlementer, jabatan wakil presiden tidak diperlukan lagi; dan (2) ia sudah tidak sejalan dengan Soekarno yang ingin memasukkan unsur komunis dalam pemerintahannya.


Sisa hidup Bung Hatta dan wafat

Pada tahun 1970, Hatta ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Penasihat Presiden dan juga untuk Komisi Empat yang bertugas mengusut korupsi. Pada 15 Agustus 1972, ia mendapat anugerah Bintang Republik Indonesia Kelas I dari Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian, pada tahun 1975, Bung Hatta menjadi ketua Panitia Lima yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai Pancasila sesuai dengan alam pikiran dan semangat lahir batin para penyusunnya.

Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Selama hidupnya, Bung Hatta sebelumnya sudah 6 kali dirawat di rumah sakit: pada 1963, 1967, 1971, 1976, 1979, dan terakhir pada 3 Maret 1980. Ia disemayamkan di rumahnya, Jalan Diponegoro 57, Jakarta, dan kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.


Fakta lain tentang Bung Hatta

Pada 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi Hatta dan dikaruniai 3 putri, bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Pada 12 Juli 1947, ia menggelar Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Tanggal itu dijadikan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Pada 17 Juli 1953, dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia dalam Kongres Koperasi Indonesia di Bandung, karena dianggap berperan besar dalam gerakan koperasi.

Beliau adalah lulusan sarjana ekonomi dari Handels Hogeschool kemudian menjadi Economische Hogeschool di Belanda, yang sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam.

Beliau mendapat gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada 27 November 1956; dari Universitas Indonesia pada 30 Juli 1975; dan dari Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang (saat ini Makassar) dalam bidang ekonomi.


Penghargaan terhadap Bung Hatta

Nama Mohammad Hatta, bersama Soekarno, dijadikan sebagai nama bandara di Cengkareng-Tangerang, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Selain di Indonesia, nama Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama sebuah jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem: Mohammed Hattastraat. Selain itu, namanya juga dijadikan nama sebuah asrama bagi mahasiswa luar negeri di Universitas Erasmus Rotterdam, tempat beliau menimba ilmu sarjananya.

Hatta dijadikan sebagai Pahlawan Proklamator (bersama Soekarno) pada 23 Oktober 1986, dan pada 7 November 2012 ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia, id.wikipedia.org.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s